Aku menulis apa yang ingin aku tulis, bukan apa yang ingin kamu baca :)

Sunday, 16 August 2015

Komitmen dan keharusan itu mati di mataku

Di pertengahan tahun yang kering namun lembab, perempuan itu masih menyelimuti diri dengan banyak bunga, mewarnai diri dengan pecahan merah muda; berharap di ujung jalan ia dihadiahi kejutan yang ia rupa-rupa. tak ada hari yang tak ia coba lunakkan dengan segala pemakluman, memahami segala kesalahan dengan pertanda bahwa kita ialah manusia, meski pada nyatanya ia tertusuk pada jahitan luka yang ia coba redakan. 
 
Tak sekali ia mengumpulkan hujan di kedua matanya, menaruhnya dalam sebuah wadah di kedua tangannya dan mempersembahkan segala duka kepada Yang Maha Pemilik Rasa menghadap kiblat. ia paham betul, bahwa apa yang ia rasakan, hanyalah sebagian dari cara Tuhan mencintainya. perempuan itu bersumpah atas nyawanya; Bahwa langit tidak selalu gelap

Bukan luka yang akan membunuh percaya atasNya, tapi dirinya sendirilah yang mampu menjadi musuh terbesarnya; jika saja, ia tak mampu mengendalikan amarah di kepala.
suatu hari yang tak lagi ganjil hadir, Tuhan masih saja belum membenarkan kekeliruannya perihal KOMITMEN ADALAH PENJARA trauma yang ia dera, sudah seharusnya sembuh. bukan, ini bukan perihal pengkhianatan terperih yang dilakukan ayahnya terhadap ibunya bukan pula perihal kegagalan rumah tangga kedua kakaknya, ini perihal robohnya istana yang ia bangun sejak kecil namun di robohkan oleh hal-hal yang konon katanya mengikat yang kebanyakan orang menyebutnya Komitmen. ia pun pernah mencoba membangun tembok tebal namun seseorang kembali merobohkannya, merobohkan tembok yang ia bangun sendirian dengan susah payah. bukan hanya belati yang menorehnya kini, tapi serupa ada peledak yang telah lama mendiami diri; ia buncah, untuk kesekian kali.
 
Ia menenggelamkan diri pada laut yang gelap; agar ia tak melihat dalamnya sayatan yang begitu perih, agar ia tak lagi mendengar bantahan mengapa malam kerap terjadi, atau agar ia tak lagi mengingat warna pelangi. perempuan itu terkubur dalam liang yang ia ciptakan di jauh hari, ia bahkan tak mampu mengartikan luka itu sendiri. bukan hanya sekali ia coba membasahi perih dengan keikhlasan air yang mengalir, namun hujan telah lama berhenti; semestanya begitu nyeri, ia perlahan mati di kepalanya sendiri. 

Pada Desember yang kelabu, Januari yang hujan, April yang basah,  perempuan itu berdiri di atas cermin yang begitu malam; mencoba menerbangkan segala rasa yang buncah kepada Yang Maha Pemilik Segala. ia adalah milikNya, dan kepadaNyalah segala seharusnya pulang.
ia tak lagi peduli, jika kelak kerap buncah kembali atau mati untuk kesekian lagi, jika itu ialah satu-satunya cara untuk apa yang abadi; Ia pasrah pada takdir yang sibuk mempermainkan dirinya.


Fachriannah

No comments:

Post a Comment