Aku menulis apa yang ingin aku tulis, bukan apa yang ingin kamu baca :)

Wednesday, 3 December 2014

Harusnya sejak awal kita tidak saling mengenal




Sebelum mengenalmu, perkara jatuh cinta tidak pernah semerepotkan ini. dan pada akhirnya, aku sampai di tahap ini, Posisi yang sebenarnya tak pernah kubayangkan. Aku terhempas begitu jauh dan jatuh terlalu dalam. Kukira langkahku sudah benar. Kupikir anggapanku adalah benar. Aku salah, menyerah adalah jawaban yang kupilih; meskipun sebenarnya aku masih ingin memperjuangkan kamu.

Aku terpaksa berhenti karena ternyata dicintai tidak semudah mencintai, yah bagiku mencintai adalah hal yang mudah, semudah membenarkan tali bra yag kusut. dan sekarang, tugasku untuk mencintaimu kini telah usai dan telah digantikan olenhya. Hari-hariku yang tiba-tiba kosong dan berbeda ternyata cukup  menguras hati dan membawa rasa tertekan. Mungkin, ini berlebihan. Tentu saja kaupikir ini sangat berlebihan karena kamu tak ada dalam posisiku, kamu tak merasakan sesaknya jadi aku.

Jika aku punya kemampuan membaca matamu dan mengerti isi otakmu, mungkin aku tak akan mempertahankan kamu sejauh ini. Jika aku cukup cerdas menilai bahwa perhatianmu bukanlah hal yang terlalu spesial, mungkin sudah dari dulu kita tak saling kenal. salahku yang terlalu terburu-buru mengartikan segala perhatian dan ucapanmu adalah wujud terselubung dari cinta. Bukankah ketika jatuh cinta, setiap orang selalu menganggap segala hal yang biasa terasa begitu spesial dan manis? Aku pernah merasakan fase itu. Aku juga manusia biasa. Kuharap kamu memahami dan menyadari. Aku berhak merasa bahagia karena membaca pesan singkatmu disela-sela dingin malamku. Aku boleh tersenyum karena detak jantungku tak beraturan ketika kamu memberikan emoticon kiss melalui pesan singkat.

Aku mencintaimu. Sungguh. Mengetahui kautak memilihku adalah hal paling sulit yang tak bisa kumengerti. Aku masih belum mengerti. Mengapa semua berakhir sesakit ini? Aku sudah berusaha semampuku, menjunjung tinggi kamu sebisaku, tapi di mana perasaanmu? Sekarang kamu berubah, kamu dingin, sikapmu dingin, dan aku tak bisa dan tak punya hak untuk menuntut ini itu. Aku hanya temanmu. Hanya temanmu. Temanmu!!! Yah kita hanya sebatas “teman”. 

Jika kauingin tahu, aku sesak dalam status yang menyedihkan ini. Aku sakit dan terkatung-katung sendirian. Meminum asam dan garam, membiarkan kamu meneguk hal-hal manis. Begitu banyak yang kulakukan, mengapa kamu tega menerbangkanku kemudian menghempaskanku dengan sangat keji?

Sejak dulu, harusnya tak perlu menyukaimu sampai terlalu jauh. Sejak pertama bertemu, harusnya tak perlu kucari id line mu dan membalas chatmu dengan hati berbunga-bunga. Sejak tahu kehadiranmu, harusnya aku tak menghiraukanmu. Aku terlalu penasaran, terlalu mengikuti rasa keingintahuanku. Jika dari awal aku tak mengenalmu, mungkin aku tak akan tahu rasanya sakit yang di obati dengan tangan sendiri. 



By: Fachriannah

No comments:

Post a Comment