Aku menulis apa yang ingin aku tulis, bukan apa yang ingin kamu baca :)

Friday, 21 November 2014

Aku rindu. tidak, aku ragu

Mungkin aku rindu atau hanya aku saja yang rindu dan terlalu merindukanmu. aku menuliskan ini ketika kata rindu dan ragu mulai datang dan memaksaku untuk menjerit tanpa suara. aku rindu, dan mulai ragu dengan perasaanmu karena jarak yang menjauhkan kita. sejak mengenalmu aku mulai terbiasa merasakan rindu dan sakit yang mulai tak kupahami datangnya darimana, entah karena kecurigaanku yang terlalu berlebih atau aku memang masih ragu dengan kata cinta yang kau ucapkan.


aku harap kamu paham alasan dari segala kecurigaan ini, aku hanya merasa kamu terlalu sempurna untukku, lihatlah dirimu, kamu tampan, berkarisma, dokter muda, dan digilai banyak wanita, yah you have everything. sedangkan aku? aku siapa? siapa aku di matamu? aku hanya gadis biasa, gadis semester lima yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mereka; gadis gadis cantik, yang memujamu, aku juga kalah cantik dari mereka. 


aku tetap merasa bukan siapa-siapa meskipun jutaan kata cinta kamu ucapkan. aku lelah pada ketakutanku sendiri, aku sekarat dalam khayal dan kecurigaan yang kubuat, aku sengsara ketika menyadari mana mungkin pria se-emas dirimu menjatuhkan hatinya pada wanita sederhana. aku takut, kalau saja kamu tak benar-benar mencinta, mungkin saja ini hanya ketertarikan sesaat yang terburu-buru kamu deskripsikan sebagai "cinta".


sungguh aku tak tahu apa arti dari hubungan ini, aku tak mengerti mengapa kamu mengajakku melangkah perlahan untuk masuk keduniamu, dan kamu membiarkan aku mengganggu aktivitasmu, kamu tak pernah marah ketika aku menanyakan banyak hal. kau biarkan aku yang senang bermain ini, mengganggu keseriusanmu. yah, aku sadar, aku ini hanya gadis pemimpi yang mengharapkan pangeran berkuda putih yang sengaja datang untuk membangunkan ku dari tidur dan mimpi panjangku. tapi sayang, jarak berteriak keras ditelingaku seakan akan berusaha untuk menyadarkanku dari segala ketidak tahu dirian ini.


Dan diantara segala ketakutan dan kecemasanku, ada rasa nyaman yang terselip yang menjadi alasan mengapa aku bertahan dalam ketidak jelasan ini. Banjarmasin adalah kotamu tapi maukah kamu memilih untuk menjadikan makassar sebagai kota keduamu? maukah kamu memilihku sebagai tempat pulangmu, bukan tempat persinggahanmu? ah pikiranku mulai kacau, sudahlah.. aku harus berhenti menulis dan mulai membereskan hatiku yang juga mulai kacau sama seperti pikiranku.



Dari, aku si
perindumu yang tabah



By: @Fachriannah :')

No comments:

Post a Comment