Aku menulis apa yang ingin aku tulis, bukan apa yang ingin kamu baca :)

Thursday, 7 August 2014

surat cinta (1)

Selamat sore sayang,

Sayang? Iya, sayang. Mengakui rasa ternyata tak semudah menuliskannya melalui aksara ya? Aku rasa kau paham, betapa aksara ternodai oleh dusta pikiran dan berkilah pada rasa. Ah, “aku rasa”. Baiknya ku ganti saja, “rasa” menjadi “ingin”, agar kau tahu maksudku. Mengatasnamakan “rasa” melalui aksara yang nyatanya belum benar terasa, bukankah itu suatu kebohongan? Bukan hanya membohongi si pembaca aksara, tapi juga ia yang menuliskannya. Untuk apa yang tidak benar terasa, enggan kutuliskan apalagi mengucapkannya. Aku tak ingin aksara kehilangan makna, terlebih membohongi diriku sendiri untuk apa yang tak ada.

Namun entahlah, denganmu aku seperti membunuh egoku pelan-pelan. Membiarkan terkikis dan terhanyut pada sungai-sungai paradoks. Membawaku menjauh dari hulu stigma yang selama ini erat-erat kugenggam, entah kemana. Aku berharap, mengalir sempurna senatural mungkin, yang tidak hanya bermuara padamu saja, tapi kita.

Menurutku, “Perasaan membutuhkan waktu untuk tumbuh seperti tulang pada tubuh. Proses.”

Kenyataannya, “Perasaan adalah makhluk yang absurd yang hidup dalam dunia tanpa ruang dan waktu, pada masing-masing hati manusia.”

Aku benci mengakui, kalau kenyataan ini benar.
Nyata seperti menamparku kini. Mempermainkan kata-kata seolah-olah benar tidak ingin berpihak padaku. Kau tahu siapa penyebab lahirnya nyata? Sang waktu. Waktu yang tidak membiarkanku tersesat pada kontradiksi rimba hatiku sendiri, ia yang melahirkan nyata dan memaksa untuk menelan pahit kata-kataku. Aku enggan, kemudian nyata malah mencekik kuat-kuat leherku, tak berhenti sampai aku berteriak kejujuran yang sebenar-benarnya pada semeseta. Aku menyerah. Aku berteriak kencang-kencang, membiarkan semesta tahu, aku menyayangimu. Iya, aku menyayangimu. Bukan hanya kamu, tapi kita.

Bagaimana kabarmu? Ah, aku lupa menanyakan kabarmu pada awal surat. aku malah asik berbicara tak karuan. Surat ini kukirim jauh-jauh bukan untuk berbasa-basi. Aku harap Pak Pos tidak terhalang banjir untuk menyampaikan surat ini kepadamu. Berharap surat ini kau baca saat sore tiba sesaat sebelum senja, seperti sore saat aku menulis ini.

ah, fikiranku mulai tak karuan lagi. Sudah yah, aku harus membereskan hati yang kau kacaukan bersamaan dengan datangnya egoku, terakhir belakangan ini. Kalian selalu meributkan apa yang seharusnya terjadi disana. Aku rasa kalian berdua akan kalah. Naluriku lebih hebat. Ia lebih mengerti kemana seharusnya hati berpijak. Sebelum ia datang, bertengkar saja terus dengan egoku, biarkan kejujuran terlahir dari sayatan-sayatan yang kalian perbuat pada masing-masing diri.


Tertanda,
wanita yang gemar berdoa
Di tiap sore sebelum senja


By: @fachriannah

No comments:

Post a Comment