Aku menulis apa yang ingin aku tulis, bukan apa yang ingin kamu baca :)

Wednesday, 9 April 2014

Bullying

fachriyahthul Jannah, jam istirahat kamu keruangan bapak sebentar. ada yang mau bapak bicarakan.”

Waktu itu tengah pelajaran bahasa indonesia. Saya yang masih kelas 1 SMA sadar betul bahwa dipanggil oleh guru menjelang akhir semester bukanlah pertanda baik.

“Kamu ada masalah ya, nak?”
Pikir saya, bagaimana mungkin saya tak punya masalah. Pada kelas 1 SMA saya bertubuh sangat kecil, kurus, berambut panjang seperti kuntilanak, mengenakan kacamata tebal dan kawat gigi. yang membuat terlihat culun sejak saya masih kelas 1MTS. Saya juga tak pintar bergaul dan tak punya banyak teman; saya korban "bullying". Ibu saya berkali-kali datang ke sekolah untuk melapor kepada guru dan saya pun berkali-kali pindah sekolah.

Pernah dahulu, ada sekelompok anak yang berteman dengan saya hanya karena ingin menyontek PR yang saya kerjakan. setiap hari libur mereka datang ke rumah saya untuk menyalin PR. Kemudian, saat bertemu di sekolah mereka tak mau bermain dengan saya. atau menyuruh saya untuk datang lebih pagi ke sekolah hanya karena mereka ingin menyalin PR yang saya kerjakan dan setelah itu mereka pergi meninggalkan saya yang duduk sendirian di bangku kelas.
Saya memulai masa kecil dan masa awal remaja saya setiap hari dengan kesadaran penuh bahwa apa yang saya hadapi sehari-hari takkan pernah bisa saya lalui.

Waktu itu saya tidak bisa bilang apa-apa. Saya begitu cengeng. Saya hanya menangis. Saya juga tak tahu apa alasan yang membuat anak yang selalu masuk peringkat sampai kelas 3 MTS tiba-tiba menjadi salah satu dari tiga kandidat utama yang akan tidak naik kelas pada kelas 1 SMA.
“Saya mau naik kelas, pak. Saya gak tau saya kenapa, tapi saya belajar kok”¸ucap saya yang berusia 14 dengan isak tangis.
Kata-kata dari beliau berikutnya adalah kata-kata yang akan saya kenang seumur hidup saya:
“Saya tahu kamu anak yang pintar, buktinya di mata pelajaran bapak nilai kamu selalu baik kecuali beberapa minggu terakhir ini. semuanya akan berubah, mungkin saat ini mereka melihat kamu ke bawah tapi nanti, kalau kamu usaha untuk lebih unggul, mereka akan mendongak untuk melihatmu ke atas, fokus belajar dan abaikan teman temanmu yang hobi mengganggu”


Orang tua manapun pasti tidak ingin melihat anaknya depresi. tapi dulu, saya sempat depresi dan berhenti sekolah untuk beberapa saat dan itu membuat ibu saya pusing, sedih dan cemas. yah kami hanya tinggal berdua dan semua beban keluarga di tanggung oleh kami berdua dan kalau saya sakit, tidak ada lagi yang membantu ibu berfikir dan menghibur ibu jika ibu lelah karena banyak pekerjaan dan tugas kuliah. setelah menelan bermacam macam obat, keluar masuk rumah sakit dan menjalani terapi akhirnya saya sembuh walaupun trauma saya belum seutuhnya hilang, setidaknya saya sudah berani untuk kembali bersekolah.

Setelah pindah sekolah ternyata saya masih jadi korban bullying, saya tetap tak bisa bergaul dan lemah dalam mata pelajaran hitungan, saya berubah menjadi orang yang bersifat pemberontak dan suka memaksakan kehendak saat kelas 3 SMA dan itu membuat saya pernah berkelahi dengan kepala sekolah dan guru di sekolahan saya yang baru; membuat saya harus keluar lagi dari sekolah itu dikarenakan saya tidak mau mengikuti peraturan sekolah yaitu semua siswi di wajibkan untuk mengenakan kerudung  dan diantara semua siswi, hanya saya yang menolak untuk berkerudung bahkan mengenakan baju seragam berlengan pendek, bukannya saya tidak mau. saya berasal dari MTS jelas saya sudah terbiasa mengenakan kerudung, saya juga bukan remaja yang nakal dan urakan, saya hanya anak rumahan, korban bullying, yang mencoba melakukan perlawanan. 

Hingga titik akhir, saya masih sempat jadi orang yang diremehkan oleh teman-teman dan guru-guru di sekolah. mereka bilang; "palingan setelah lulus dia tinggal dirumah seperti orang bodoh dan mengeluh kepada ibunya setiap ada masalah" tapi yang terjadi malah sebaliknya saya malah mendapatkan hasil ujian tertinggi di antara semua siswa/i.


"terimakasih ibu, karena nasehat nasehat ibulah saya bisa kuat sampai saat ini, dan karena motivasi dari ibulah saya merasa saat ini saya jauuuuuuh lebih baik dan pastinya lebih berani dalam menghadapi apapun. 
dan terimakasih untuk pak baso guru bahasa indonesia. Kata-kata beliau 5 tahun yang lalu mengubah cara pandang saya terhadap hidup, bahwa siapapun berhak untuk punya kesempatan, bahwa siapapun bisa berubah menjadi lebih baik"

"untuk teman teman yang pernah membully saya.. semoga kalian masih mengingat saya, si anak culun yang pernah kalian bully habis habisan dan sekedar informasi, sekarang saya jauh lebih baik dari kalian :)"


No comments:

Post a Comment