Aku menulis apa yang ingin aku tulis, bukan apa yang ingin kamu baca :)

Monday, 13 May 2013

tuan, mengapa kau begitu beku?

Dulu, dulu... sekali kau bukanlah bagian dari hari-hariku tapi itu dulu sebelum aku mengenal sosokmu. setiap hari, kusisihkan sebagian waktuku hanya untuk membalas pesan singkatmu. sapaan hangat selamat pagi dan selamat malam-mu dengan emot smile selalu membuat ku tersenyum malu. ku akui kau mampu mencuri perhatianku hingga tak tersisa, sehingga aku memilih untuk memendam perasaanku yang semakin hari semakin berakar.

jatuh cinta adalah dua kata yang susah di deskripsikan dan aku termasuk orang yang sangat sulit untuk jatuh cinta. aku harus melewati proses yang cukup panjang untuk sampai di tahap ini. tapi kali ini lain, semuanya berbeda. pertama kali melihatmu; aku tahu ada sesuatu yang menarik dari dirimu entah apa. rasa penasaranku kian bertambah ketika seorang teman memperkenalkan kita. dan kebahagiaanku dimulai ketika kau menyapaku terlebih dahulu di suatu pertemuan yang tidak disengaja.

sejak saat itu pesan singkatmu selalu memnuhi inbox handphoneku disetiap harinya. ku fikir itu tanda darimu. tapi sayang, aku salah. aku yang begitu bodoh karena terlalu cepat mengartikan dan berharap lebih. kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu. sayangnya semua hal itu kau anggap angin lalu. seandainya kau dapat mendengarkan detakan jantungku ketika berada disampingku, mungkin kau akan sedikit lebih peka.

Tuan, tak mungkin kau tak dapat mengartikan perasaan anehku, sedangkan aku tiada hentinya memberikanmu perhatian lebih. mengapa hingga saat ini kau tak bisa mengartikan senyumku? senyum yang berbeda, senyum yang tidak ku berikan kepada setiap orang. tahu kah kau senyummu adalah keteduhan yang ingin kulihat setiap hari, aku selalu berharap suatu hari nanti aku adalah salah satu alasan mengapa kau bisa tersenyum. tapi sayang harapku terlalu tinggi.

Rasa sakit itupun mulai timbul ketika ku tahu kau terlalu sibuk dengan kekasih barumu. sehingga ucapan selamat pagiku melalui pesan singkat pun enggan kau balas. kau membuatku terbiasa dengan sapaan manismu dan sekarang aku harus terbiasa dan terpaksa menjalani hari tanpamu, tanpa sapaanmu, tanpa candaanmu yang semua berawal dari pesan singkat, setiap hari waktuku ku habiskan hanya untuk meyakinkan diriku bahwa ini hanyalah rasa suka sesaat.

tanpa lambaian tangan, tanpa ucapan perpisahan kau menghempaskan perasaanku dengan keji. tak ada sapaanmu lagi, kau sungguh cuek tuan, kau yang sekarang berbeda dengan kau yang kemarin. mungkin dia terlalu sempurna. tentu saja, jika tidak, tak mungkin kau memilihnya dan mencampakkan ku.

tuan tolonglah, mengapa kau tak menghargai sedikit saja perjuanganku, aku tak biasa dengan semua ini, kau yang menyeret ku kedalam perasaan aneh ini dan sekarang, kau pula yang menghempaskanku kedalam perasaan sesakit ini. dulu kita yang begitu dekat, tiba-tiba menjauh meskipun dalam ketidak jelasan, tanpa status apa-apa tapi kita pernah dekat dan sangat dekat.

seandainya ku tahu pada akhirnya kita akan seperti ini, sejak awal aku tidak ingin perkenalan kita terjadi, aku tak ingin mendengarkan suaramu ketika menyebutkan nama, aku tak ingin membalas senyummu, aku tak ingin menjabat tanganmu, aku tak ingin membalas pesan singkatmu. itu semua terlalu sakit untuk ku kenang.

jika kau tanya seberapa sakitnya jadi aku, mungkin seluruh kalimat dalam triliun bahasa tak bisa mendefinisikannya. sesakit itu, perasaan bukanlah sebuah kata atau kalimat yang dapat didefinisikan.  tuan, aku lelah dengan ketidak jelasan yang kau berikan sejak awal perkenalan, aku sekarat dalam pengabaianmu.bisakah kau memberikan  ku sedikit ruang di hatimu?

aku terus berusaha meyakinkan diri, bahwa semuanya akan baik-baik saja, semua rasa sakit ini akan hilang dengan sendirinya dan luka ini akan mengering seiring berjalannya waktu. tapi bagaimana bisa, jika setiap hari aku harus melihat apa yang tidak ingin kulihat, mataku harus basah jika melihatmu menggenggam jemarinya, merangkul bahunya.

bisakah kau rasakan betapa sakitnya jadi aku? bisakah kau bayangkan betapa perihnya jadi orang yang setiap harinya terluka? bisakah kau bayangkan betapa sakitnya melihat orang yang kau cintai bermesraan dengan yang lain? seandainya kau tahu isi hatiku mungkinkah hatimu yang beku akan segera mencair?.

kamu tidak bisa, tentu saja, karena kamu bukan tipe pria yang perasa dan kamu juga terlalu sibuk dengannya. sedangkan aku? aku bukanlah tujuanmu aku hanya tempat persinggahanmu yangtak ingin kau tahu isi hatinya

By: @Fahriannah :)

No comments:

Post a Comment